Di tengah suasana Indonesia Rendezvous 2025 yang digelar di Bali pada 15–17 Oktober 2025, satu pesan penting mengemuka dari diskusi para pelaku industri keuangan dan asuransi: kehati-hatian masih menjadi DNA utama dalam pengelolaan investasi asuransi Indonesia. Dalam forum ini, PT Majoris Asset Management memaparkan bagaimana struktur portofolio asuransi nasional hingga kini masih didominasi instrumen defensif—sebuah pilihan strategis di tengah pasar yang belum sepenuhnya ramah risiko.
Forum Indonesia Rendezvous sendiri menjadi panggung strategis, mempertemukan regulator, perusahaan asuransi, reasuransi, dan pelaku pasar modal. Di tengah ketidakpastian global dan volatilitas domestik, diskusi investasi asuransi tidak lagi sekadar soal mengejar imbal hasil, tetapi tentang ketahanan, keselarasan risiko, dan arah jangka panjang industri.
Portofolio Defensif: Realitas yang Disampaikan di Bali
Data yang disampaikan Majoris di Bali menunjukkan gambaran yang cukup jelas. Sekitar 68% portofolio investasi asuransi umum masih ditempatkan pada instrumen defensif, dengan 48,1% pada instrumen pendapatan tetap dan 19,9% pada deposito perbankan. Porsi saham relatif kecil, hanya sekitar 3,7%, mencerminkan sikap konservatif industri.
Konteks pasar menjelaskan pilihan ini. Sepanjang 2025, pasar saham Indonesia menghadapi tekanan arus keluar investor asing, dengan net sell sekitar Rp53 triliun secara year-to-date. Di saat yang sama, pertumbuhan laba emiten belum cukup kuat menjadi katalis besar, meskipun valuasi mulai terlihat menarik dari sisi dividen.
Di pasar obligasi, imbal hasil SUN tenor 10 tahun berada di kisaran 6,1–6,2%, mendekati level terendah dalam tiga tahun terakhir. Dalam paparan tersebut, terlihat jelas bahwa asuransi dan dana pensiun menjadi salah satu pembeli terbesar obligasi pemerintah, sejajar dengan Bank Indonesia dan perbankan domestik. Hal ini menegaskan peran industri asuransi sebagai investor jangka panjang sekaligus penopang stabilitas pasar keuangan.
Dari Yield ke Alignment: Pesan Utama Indonesia Rendezvous 2025
Namun, pesan yang disampaikan di Indonesia Rendezvous 2025 bukanlah ajakan untuk terus berdiam di zona aman. Justru sebaliknya, Majoris menekankan pergeseran paradigma: dari sekadar mengejar yield menuju alignment dengan risk tolerance, risk capacity, dan nilai jangka panjang.
Dalam lingkungan suku bunga yang cenderung rendah dan stabil, obligasi tenor panjang mulai dilihat sebagai peluang capital gain, selama dikelola secara disiplin dan selaras dengan profil kewajiban asuransi. Untuk obligasi korporasi, kehati-hatian tetap menjadi prinsip utama, dengan preferensi pada emiten berperingkat minimal A+ agar tambahan imbal hasil tidak menggerus kesehatan neraca.
Lebih jauh, forum di Bali ini juga menyoroti arah baru investasi asuransi melalui values-aligned investing. Investasi berbasis syariah, ESG, hingga impact investing—seperti inisiatif Student Housing Fund dan rencana Wakaf Fund—dipandang sebagai langkah untuk menjaga relevansi industri asuransi, tanpa mengorbankan prinsip kehati-hatian.
Di Indonesia Rendezvous 2025, satu kesimpulan terasa menguat: dominasi instrumen defensif dalam portofolio asuransi bukanlah tanda ketertinggalan, melainkan refleksi strategi bertahan yang sadar risiko. Tantangan ke depan adalah bagaimana industri asuransi secara bertahap bergerak dari sekadar aman menuju selaras—mengoptimalkan peluang pasar, sambil tetap menjaga stabilitas dan kepercayaan publik.
Baca decknya di sini: Majoris AM_From Yield to Alignment-Rethinking Insurance