Ketika ekonomi global bergerak melambat dan penuh ketidakpastian, Indonesia memilih untuk tidak bergantung pada satu harapan besar: pemulihan dunia. Di tengah perang dagang, ketegangan geopolitik, dan perlambatan ekonomi China, arah kebijakan Indonesia justru semakin jelas—memperkuat daya tahan domestik sebagai jangkar utama pertumbuhan.
Paparan Macroeconomic Update Bank Mandiri (Oktober 2025) menunjukkan bahwa tekanan global belum akan mereda dalam waktu dekat. Pertumbuhan ekonomi dunia diproyeksikan hanya sekitar 3,0% pada 2025, sementara volume perdagangan global bahkan diperkirakan turun ke 1,7%, jauh di bawah rata-rata historis. Dalam konteks ini, bertahan bukan berarti stagnan, tetapi memilih strategi yang lebih realistis.
Dunia Melambat, Risiko Global Masih Mendominasi
Tekanan global datang dari berbagai arah. Amerika Serikat kembali menerapkan tarif sektoral hingga 50% untuk komoditas strategis seperti baja, aluminium, dan otomotif. China, sebagai mesin pertumbuhan global selama dua dekade terakhir, diperkirakan tumbuh melambat ke kisaran 4,8% pada 2025 dan terus turun menuju 4,0% pada 2027.
Dampaknya terasa jelas di pasar komoditas. Harga minyak, batu bara, CPO, dan nikel mengalami tekanan sepanjang 2024–2025. Sebaliknya, emas justru melonjak tajam, mencapai sekitar USD 3.886 per ons, mencerminkan sikap “risk-off” investor global yang mencari aset aman di tengah ketidakpastian.
Kondisi fiskal Amerika Serikat juga menambah ketegangan. Defisit fiskal yang melebar dan rasio utang terhadap PDB yang terus naik mendorong kenaikan imbal hasil US Treasury, memperketat likuiditas global dan meningkatkan risiko volatilitas pasar keuangan.
Ketahanan Domestik Jadi Penyangga Utama Indonesia
Di tengah tekanan global tersebut, Indonesia relatif mampu menjaga stabilitas. Bank Mandiri memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada di kisaran 4,9–5,0% pada 2025, dengan inflasi yang terkendali di sekitar 2,4%. Ini memberi ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter seiring penurunan suku bunga global, dengan BI Rate diperkirakan turun ke 4,25% pada 2025 dan terus menurun setelahnya.
Meski konsumsi rumah tangga masih menjadi tulang punggung ekonomi, data menunjukkan perilaku belanja masyarakat mulai lebih defensif. Mandiri Spending Index (MSI) melemah pada kuartal III 2025, dan Indeks Keyakinan Konsumen turun ke 117,2 pada Agustus 2025. Belanja kebutuhan pokok seperti supermarket justru meningkat, sementara tabungan menurun di seluruh segmen—bawah, menengah, hingga atas—menandakan tekanan daya beli yang perlu diantisipasi.
Pemerintah merespons dengan fokus kebijakan jangka menengah dan panjang. Program ketahanan pangan, hilirisasi industri, implementasi B40 biodiesel, serta investasi besar di sektor pendidikan dan gizi menjadi penopang struktural. Hingga 2025, pemerintah telah meluncurkan 18 proyek hilirisasi nasional dengan total nilai investasi sekitar Rp618 triliun, tersebar di sektor mineral, energi, pertanian, dan perikanan.
Di sektor keuangan, kehati-hatian tetap terjaga. Kredit memang melambat—terutama di segmen UMKM dan ritel—namun stabilitas sistem keuangan tetap kuat. Di industri asuransi, premi asuransi umum masih tumbuh, sementara rasio klaim terhadap premi berada di kisaran 43–44%, dan tingkat solvabilitas (RBC) industri asuransi umum tetap sangat tinggi, sekitar 312%, jauh di atas batas minimum regulator sebesar 120%.
Semua data ini mengarah pada satu kesimpulan penting: Indonesia tidak sedang menunggu dunia membaik. Dengan memperkuat konsumsi domestik, menjaga stabilitas keuangan, dan mendorong transformasi struktural melalui hilirisasi dan pembangunan manusia, Indonesia memilih bertahan dengan strategi ketahanan—sebuah pilihan rasional di tengah dunia yang belum sepenuhnya pulih.
Baca decknya di sini: Bank Mandiri_Macroenonomic Update