Ancaman kenaikan inflasi global membayangi sebagian besar sektor industri, tidak terkecuali sektor asuransi. Di tahun ini, pemerintah menaikkan asumsi inflasi pada kisaran 3,5% – 4,5% dari sebelumnya ditargetkan hanya 2% hingga 4%.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun menilai akan ada beberapa dampak pada industri ini jika inflasi terus merangkak naik.

Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) OJK, Ogi Prastomiyono, mengatakan, dampak pertama yang bakal dirasakan ialah terkait penerimaan premi, khususnya untuk bisnis baru.

Ogi menambahkan, total penerimaan premi di semester pertama tahun 2022 ini terdapat penurunan sekitar 0.03% yoy. Hal ini terjadi karena pola pengeluaran masyarakat yang lebih konservatif.

Tak hanya untuk bisnis baru, kenaikan harga yang semakin meluas juga berdampak pada pemegang polis saat ini maupun yang akan datang. Sehingga, diperkirakan akan ada kenaikan rasio surrender yang mempengaruhi kewajiban pembayaran premi lebih lanjut.

Ogi mengingatkan agar perusahaan asuransi melakukan beberapa hal agar tidak bisa mencegah dampak yang terlalu besar dari inflasi.

Pertama, memastikan permodalan yang memadai. Kedua, perusahaan asuransi diminta untuk menahan diri dari pemasaran produk yang agresif. Contohnya, menawarkan premi yang rendah dan tidak seimbang dengan manfaat yang ditawarkan dan risiko yang dijamin.

Ketiga, ia menegaskan perusahaan asuransi dalam menjalankan investasi perlu prudent dan bertanggung jawab. Mengingat, ancaman inflasi dan perekonomian global dapat menimbulkan downside risk bagi perusahaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s