Web3 atau Web 3.0 merupakan internet generasi ketiga yang akan datang di mana situs web dan aplikasi akan dapat memproses informasi dengan cara yang cerdas melalui teknologi seperti machine learning, big data, teknologi buku besar terdesentralisasi (DLT), dll.

Awalnya, Web 3.0 disebut Web Semantik oleh penemu World Wide Web Tim Berners-Lee, dan ditujukan untuk menjadi internet yang lebih mandiri, cerdas, dan terbuka. Hasil definisi dari Web 3.0 kemudian diperluas menjadi data akan saling berhubungan dengan cara yang terdesentralisasi di mana data sebagian besar disimpan dalam repositori terpusat.

Pengguna dan mesin akan dapat berinteraksi dengan data. Namun agar hal ini terjadi, program perlu memahami informasi baik secara konseptual maupun kontekstual.

Untuk mengenal Web3 secara lebih jelas, Techinasia memberikan perbandingan evolusi internet Web1, Web2, dan Web3 dalam suatu tabel di bawah ini:

 Web1Web2Web3
Periode1985-19992000-2020Sejak 2020
Fokus pengembangan teknologiKebutuhan perusahaanPengembangan komunitasPemberdayaan individu
Tren pembuatan kontenDiproduksi oleh perusahaanDiproduksi oleh penggunaDimiliki oleh pengguna
Jenis kontenStatisDinamisTerpersonalisasi
Lokasi penyimpanan dataDisimpan di serverDisimpan di serverTerdistribusi
Keberadaan otoritas pengatur informasiAdaAdaTidak ada (permisionless)
Standar bahasa pemrogramanHTML  XML / RSSRDF / RDFS / OWL
Grafik: Techninasia, 2022

Web3 ini memiliki tiga karakteristik yang berbeda dari pendahulunya, yaitu:

Desentralisasi. Memanfaatkan teknologi blockchain, data dan informasi tak lagi disimpan di suatu server tertentu, namun terdistribusi ke semua pengguna. Artinya tak ada lagi pihak yang memegang kendali atas suatu informasi.

Trustless. Semua pihak bisa berinteraksi secara langsung tanpa melalui pihak ketiga yang jadi perantara.

Permissionless. Aktivitas antarpengguna terjadi tanpa ada otoritas/lembaga yang memiliki wewenang untuk mengatur.

“Jadi singkatnya. Web1 itu kita read. Web2 kita read dan write. Web3 ini kita read, write, dan own,” jelas Irzan Raditya, Co-founder dan CEO Kata.ai yang saat ini juga sedang terlibat dalam sebuah proyek Web3. “Own”, atau kemampuan untuk memiliki aset digital, memang jadi kunci dari Web3 dan yang membuatnya berbeda dengan internet Web2[1]. Di sini kita tentu sudah bisa merasa ada hubungan antara Web3 dengan blockchain, teknologi yang ada dibagi cryptocurrency atau Non-Fungible Tokens (NFT).

Banyak komunitas kripto yang menganggap bahwa masa depan Web3 akan menggunakan teknologi blockchain sebagai fondasinya. Anggapan ini didasarkan kepada sifat blockchain yang trustless, permissionless, dan open-source.


[1] id.techinasia.com, https://id.techinasia.com/apa-itu-web3 , dikutip pada 14 May 2022

Gambar: febritanaya.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s