Penetrasi asuransi di Indonesia masih di bawah 10%. Nilai ini sedikit dibandingkan Malaysia yang sudah mencapai 54%. Rendahnya penetrasi disebabkan oleh stigma negatif tentang asuransi, proses yang rumit; beberapa produk sulit dipahami, proses klaim yang lama, dll. Beberapa alasan tersebut juga disampaikan oleh CEO Cleosent Randing Pasarpolis. Rendahnya penetrasi asuransi di Indonesia masih menjadi tantangan saat ini, antara lain karena stigma negatif yang dimiliki masyarakat terhadap asuransi. Sebut saja prosesnya yang rumit, beberapa produk yang sulit dipahami, proses klaim yang lama, dan sebagainya.

Namun tren penetrasi menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Pada 2019, penetrasi asuransi mencapai 2,81%. Kemudian, pada 2020 jumlahnya meningkat menjadi 2,92%, dan pada Juni 2021 naik lagi menjadi 3,11%. Hal ini menunjukkan sinyal positif dari perkembangan asuransi di Indonesia. Peningkatan tersebut ditandai dengan pertumbuhan premi yang dilaporkan oleh industri asuransi nasional. Kondisi ini dapat menjadi peluang bagi Asuransi untuk bertransformasi menuju digital.

Gambar: Statistik Pasar Asuransi Jiwa di 5 negara di Asia

OJK juga mencatat total premi asuransi umum dan asuransi jiwa yang disalurkan melalui digital (insurtech) hingga Juli 2021 mencapai Rp6 triliun. Angka tersebut menyumbang 3,94% dari total premi asuransi umum dan jiwa nasional.
Sebagai pionir insurtech di Indonesia, seperti yang diungkapkan oleh Cleosent Randing, PasarPolis akan terus berinovasi dengan memanfaatkan teknologi untuk membuat asuransi tersedia untuk semua orang di wilayah ini dengan membangun asuransi generasi berikutnya dengan rangkaian lengkap produk baru dan inovatif, pengalaman klaim yang mulus dan pelanggan memercayai.

Elemen kunci keberhasilannya adalah memanfaatkan teknologi, termasuk Artificial Intelligence (AI) dan big data, untuk membangun produk asuransi yang disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan. Tujuannya adalah untuk menyajikannya dengan mudah dan bahkan lebih otomatis untuk ekosistem digital yang lebih luas, mendorong penetrasi asuransi yang lebih dalam. Insurtech akan menggunakan teknologi ini untuk analisis data untuk memprediksi harga yang tepat atau membuat klaim mobil lebih mulus, misalnya, pada asuransi perjalanan atau penggunaan telematika dalam asuransi mobil. Teknologi PasarPolis dirancang untuk memberikan pengalaman end-to-end terbaik bagi konsumen, mulai dari proses pemilihan produk hingga proses klaim.

Meringkas dari berbagai sumber, AI di insurtech saat ini digunakan untuk:
– Perhitungan risiko, misalnya, mendapatkan lebih banyak data dari perangkat sumber apa pun
– Menciptakan produk yang tepat bagi pelanggan/pasar, termasuk produk kustomisasi
– Penanganan klaim yang mudah dan otomatis
– Kemudahan/seamless
– Deteksi penipuan

Segala bentuk kemudahan dari teknologi ini akan mengarahkan perusahaan untuk menciptakan produk yang sesuai, salah satunya adalah berbagai jenis asuransi mikro yang terjangkau. Karena harganya yang murah, semakin banyak orang yang membeli produk tersebut. Secara tidak langsung, salah satu permasalahan terkait stigma tentang asuransi mahal telah teratasi.

Insurtech telah hadir di pasaran saat ini, beroperasi dengan semangat menghadirkan produk asuransi yang mudah, efektif dan efisien, serta murah dengan memanfaatkan teknologi. Kedua pelaku industri asuransi yang diwawancarai mengaku juga mempertimbangkan strategi lain untuk menjalankan bisnisnya. Strategi ini tidak lain adalah menarik mitra sebagai saluran untuk memasarkan produk baik dari lembaga keuangan maupun non lembaga keuangan.

Mengutip laporan Insurtech Dailysocial pada tahun 2020, asuransi bekerja sama dengan lintas industri dalam ekosistem yang lebih besar. Kolaborasi tidak hanya melibatkan pemain yang bergerak di industri asuransi. Laporan di tahun yang sama menunjukkan bahwa pionir insurtech juga menjajaki kolaborasi dengan super apps untuk menjual produk asuransi.

Hingga saat ini, tren kolaborasi juga terbukti efektif. PasarPolis saat ini bekerja sama dengan lebih dari 30-40 mitra strategis di antaranya: Kredivo, Tokopedia, Shopee, Gojek, JD.ID, Sicepat, dan masih banyak lagi.

Terjemahan bebas dari DSInnovate Fintech Report 2021

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s