Asosiasi Asuransi Umum Indonesia atau AAUI meluncurkan asuransi tanaman berbasis indeks. Asuransi tanaman berbasis indeks ini memberi proteksi terhadap risiko kekurangan kelembaban tanah yang dapat berakibat pada gagal panen. Asuransi itu menggunakan indeks data harian yang memberikan valuasi sebelum risiko menimpa petani.

Ketua Umum AAUI Hastanto Sri Margi (HSM) Widodo menjelaskan bahwa produk tersebut merespons perubahan curah hujan pada paruh pertama dan kedua setiap tahun. Hal tersebut menyebabkan kurangnya kelembapan tanah pada Mei—Juli dan kelebihan kelembapan pada Juli—Oktober, yang dapat memengaruhi hasil panen.

AAUI melihat bahwa kelembaban tanah sebagai salah satu risiko bagi petani. Berkurangnya kelembaban tanah membuat kualitas tanaman menurun, bahkan bisa menyebabkan gagal panen.

Berdasarkan studi terhadap petani bawang, 36 persen dari modal adalah biaya untuk memompa air. Terbatasnya modal petani membuat petani kesulitan dalam mengairi ladang saat musim kemarau tiba.

Atas kendala dan permasalahan yang dihadapi oleh petani Indonesia tersebut, AAUI mengembangkan platform mandiri untuk melakukan pengukuran otomatis atas kondisi tanah. Adanya data indeks kelembapan tanah membuat asuransi bisa membayarkan klaim menjelang kontrak, sehingga petani bisa menggunakan dananya untuk menyewa pompa air.

Saat perlindungan Mei sampai Juli, lalu Agustus terdapat perhitungan otomatis bahwa kelembapan tanah sudah menurun dan masuk kategori berisiko. Data dari indeks itu dikirimkan ke asuransi oleh sistem secara otomatis. Asuransi bisa langsung mengirimkan santunan kepada petani tanpa perlu mengisi banyak dokumen terlebih dahulu.

“Asuransi ini memang agak loncat [bukan membayar di akhir setelah risiko terjadi], kami empowering petani terhadap risiko kekeringan agar tidak gagal panen saat kekurangan kelembapan. Tadi masalahnya memang karena cuaca, tetapi kami tutup risikonya dengan asuransi sehingga tanaman bisa terjaga,” ujarnya.

Anggota Dewan Komisioner dan Kepala Eksekutif Pengawasan Industri Keuangan Non-Bank Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Riswinandi Idris mendukung pengembangan asuransi tanaman berbasis indeks tersebut. Saat ini, terdapat proteksi berupa asuransi untuk jagung dan asuransi berbasis indeks untuk kakao. Menurutnya, keterjangkauan premi asuransi menjadi faktor krusial karena kemampuan petani terbatas, terlebih untuk membeli asuransi. Selain itu, kemudahan pengajuan klaim dengan cepat harus menjadi fokus perusahaan-perusahaan asuransi.

“Dari sini kami harap asuransi indeks bisa mengatasi tantangan, mengingat klaim bisa lebih cepat, sehingga memengaruhi produktivitas petani,” ujar Riswinandi pada Kamis (16/12/2021).

Riswinandi menilai bahwa kondisi krisis iklim berdampak besar terhadap para petani karena cuaca berubah dari waktu ke waktu dan meningkatkan potensi gagal panen. Ancamannya belum termasuk dari hama dan penyakit, sehingga petani menghadapi berbagai risiko yang cukup serius dalam jangka panjang.

Pemerintah perlu turun tangan, karena keikutsertaan dalam asuransi pertanian dapat membantu apabila terjadi kegagalan produksi hasil panen. Lalu, selain melalui produk asuransi umum konvensional, OJK juga secara berkelanjutan mendorong pelaku industri untuk memberikan value added kepada masyarakat melalui inovasi-inovasi produk asuransi.

Gambar: The Bangkok Post

2 thoughts on “AAUI Luncurkan Asuransi Tanaman Berbasis Indeks

    1. Yoi mass… Hebat juga AAUI bisa buat sendiri. Di negara lain, biasanya bekerja sama dengan insurtech untuk membuat hal semacam ini.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s