Blockchain terdiri dari gabungan dua kata, yakni block yang artinya kelompok dan chain yang berarti rantai. Penamaan tersebut mencerminkan bagaimana cara kerja blockchain untuk menciptakan blok-blok yang terhubung satu sama lain dengan tujuan mengeksekusi transaksi. Blockchain merupakan rantai blok urut yang dirangkai dan didistribusikan bersama. Setiap blok terdiri dari ledger (buku besar) dan tiga elemen, yakni data, hash, dan hash dari blok sebelumnya.

Sifat blockchain yang desentralisasi membuat teknologi ini tidak perlu bergantung pada otoritas eksternal untuk validasi dan integritas keaslian data. Hal ini dimungkinkan karena penggunaan distributed ledger yaitu desentralisasi penyimpanan data yang mencatat detail transaksi dalam sebuah sistem yang aman, transparan, dan efisien. Transparansi dalam pencatatan ini merupakan salah satu kunci yang dapat diterapkan untuk mencegah terjadinya pemalsuan data transaksi atau fraud. Selain itu, blockchain juga melindungi dari perubahan atau penghapusan oleh pihak lain sehingga menjamin berjalannya transaksi lebih efektif dan cepat.

Industri asuransi menjadi salah satu industri yang dapat mengimplementasikan teknologi blockchain. Penggunaan blockchain akan memudahkan dan menyederhanakan proses transaksi dan memberikan keamanan bagi perusahaan asuransi hingga pemegang polis. Implementasi blockchain dalam asuransi juga dapat meminimalisir risiko fraud. Selain itu, penerapan smart contract  berdasarkan teknologi blockchain juga memungkinkan perusahaan asuransi untuk menyediakan produk asuransi baru yang inovatif.

Penerapan Blockchain

Perusahaan asuransi dan juga Insurtech dapat memanfaatkan blockchain dalam beberapa bentuk penerapan, seperti:

  • Deteksi fraud & pencegahan risiko : Dengan memindahkan klaim asuransi ke buku besar yang tidak dapat diubah, teknologi blockchain dapat membantu menghilangkan sumber fraud yang umum terjadi di industri asuransi.
  • Asuransi properti & kecelakaan : Buku besar bersama dan polis asuransi yang dijalankan melalui kontrak pintar dapat membawa peningkatan efisiensi yang besar pada asuransi properti dan kecelakaan.
  • Asuransi kesehatan : Dengan teknologi blockchain, catatan medis dapat diamankan secara kriptografis dan dibagikan di antara penyedia layanan kesehatan, meningkatkan interoperabilitas dalam ekosistem asuransi kesehatan.
  • Reasuransi : Dengan mengamankan kontrak reasuransi di blockchain melalui kontrak pintar, teknologi blockchain dapat menyederhanakan aliran informasi dan pembayaran antara perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi.
  • Asuransi jiwa : Teknologi Blockchain dapat menghilangkan beban pengajuan klaim kematian dari anggota keluarga dengan mengganti proses manual pengajuan klaim dengan sistem otomatis yang dibangun di atas buku besar blockchain.

Tantangan Blockchain

Walaupun implementasi blockchain dalam asuransi memiliki manfaat yang signifikan, ada tantangan-tantangan yang perlu dipertimbangkan. Pertama, penyelenggara harus mengindahkan asas kehati-hatian dalam penerapan blockchain dan pengembangannya di industri asuransi karena industri ini sangat diatur oleh regulator. Asas kehati-hatian ini bertujuan untuk memberikan kepastian dan keamanan dalam penjaminan dan pengelolaan risiko. Kedua, berkaitan dengan mekanisme perlindungan data dari pemegang polis yang tersimpan dalam sistem blockchain. Blockchain bersifat immutable yang berarti data yang tersimpan tidak dapat dihapus atau dihilangkan lagi oleh sistem. Kebijakan internal perusahaan asuransi terkait pengambilan, penyimpanan, pemrosesan dan penghapusan data pemegang polis perlu diatur sedemikian rupa agar mengindahkan hak-hak terkait perlindungan data nasabah. Bagaimana jika ada pemegang polis yang ingin berhenti menggunakan layanan dan ingin menghapus data-data yang dimilikinya dalam jaringan blockchain.

Dari segi regulasi, implementasi blockchain dan InsurTech di Indonesia diatur berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 13/POJK.02/2018 tentang Inovasi Keuangan Digital di Sektor Jasa Keuangan. Walaupun begitu, Otoritas Jasa Keuangan sedang merumuskan suatu aturan khusus terkait dengan implementasi Insurtech. Masih banyak isu yang perlu dibahas, dipertimbangkan, dan dicari solusinya. Diantaranya adalah mengenai teknis produk asuransi yang ditawarkan, standar keamanan dari penyelenggaraan sistem elektroniknya, perlindungan konsumen, manajemen risiko, dan persaingan usaha antara penyelenggara.

Ruang gerak perusahaan asuransi untuk memanfaatkan teknologi blockchain dan smart contract dalam kegiatan InsurTech di Indonesia masih besar. Pemanfaatan tersebut dapat meminimalisir risiko fraud, memudahkan serta menyederhanakan proses transaksi asuransi. Namun, memang ada tantangan yang perlu dipikirkan solusinya. Ditambah lagi permasalahan mengenai literasi digital masyarakat Indonesia yang rendah. Walaupun begitu, potensi dan kesempatan yang ditawarkan oleh teknologi blockchain dalam industri asuransi di Indonesia sangat besar.

Disarikan dari:

https://www.akseleran.co.id/blog/blockchain-adalah/

http://is.its.ac.id/pubs/oajis/index.php/file/download_file/1840

https://www.cbinsights.com/research/blockchain-insurance-disruption/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s