Secara teori, disrupsi digital mencerminkan perubahan yang terjadi ketika teknologi dan layanan baru mengubah wajah sektor yang ada. Disrupsi digital menggeser cara kerja tradisional ke cara kerja yang baru.

Sektor insurtech adalah contoh utama dari pergeseran ini. Dulu, klaim asuransi membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk diproses dan dinilai. Kini klaim hanya memakan waktu beberapa detik. Dan membeli polis juga semudah beberapa klik pada aplikasi ponsel.

Dalam arti positif, disrupsi dalam sektor insurtech terjadi ketika kebutuhan pelanggan menjadi pusat dari seluruh agenda perusahaan. Inovasi dan perubahan menempatkan pelanggan sebagai pihak yang harus dimanjakan. Sementara pandemi Covid-19  menimbulkan kekacauan dan kerugian dalam segala sisi, pandemi juga telah membawa perubahan penting yang membawa hasil positif.

Manfaat disrupsi digital

Di Indonesia, disrupsi digital sudah mulai terasa. E-commerce seperti Tokopedia, Shopee, JD.ID, Blibli dan sebagainya merangkul InsurTech untuk memberikan nilai tambah bagi nasabah. Ketika orang merasa bahwa smartphone rentan pada risiko jatuh atau kecurian, maka orang akan mencari, misalnya, Tokopedia atau JD.ID untuk mendapatkan proteksi gadget bersamaan dengan pembelian smartphone.

Demikian pula dengan aggregator asuransi. Mereka meraih keuntungan ketika nasabah asuransi tidak berani untuk membeli asuransi ke kantor cabang atau kantor pemasaran. Aggregator menawarkan pembelian asuransi yang seamless, cepat, dan digital!

Di luar Indonesia, analisis data menjadi bagian penting dari InsurTech. Dengan meningkatnya digitalisasi layanan, data menjadi lebih efisien dan dimanfaatkan dengan lebih baik. Daripada menunggu surveyor asuransi untuk menilai kerusakan kendaraan ketka terjadi kecelakaan, teknologi terbaru dapat membuat penilaian secara cepat melalui citra dan video real-time, menyelesaikan klaim untuk pelanggan dalam hitungan menit.

Biaya disrupsi

Disrupsi digital memang sangat menjanjikan. Namun, bagaimana dengan biaya yang ditimbulkan oleh perubahan ini dalam jangka pendek? Ketika hidup orang menjadi semakin bergantung pada smarphone, berbagai kemudahan dari layanan yang dilakukan oleh Grab, Gojek, dan proses yang membuat perdagangan dan ekonomi terus bergerak, maka biaya disrupsi akan semakin tinggi dan tidak terhindarkan. Siapapun yang tidak mengalokasikan sumber daya keuangan untuk melakukan transformasi digital, maka risiko kehilangan konektivitas dengan pelanggan akan menjadi lebih besar dari sebelumnya. Jadi pilihannya adalah antara biaya untuk melakukan transformasi digital atau kehilangan pelanggan.

Transformasi digital

Berinvestasi dalam transformasi digital merupakan suatu keharusan. Membentuk kemitraan dengan pakar keamanan dan teknologi juga menjadi aspek penting dalam menjaga momentum bisnis dan menghindari gangguan yang merugikan.

Pandemi Covid telah menjadi faktor kunci dalam mendorong transformasi digital dalam asuransi. Tidak hanya untuk melayani pelanggan eksisting maupun mendapatkan pelanggan baru, peralihan ke digital memungkinkan pelanggan mengakses layanan mandiri 24 jam dalam 7 hari. Artinya, ketika masyarakat membutuhkan, maka akan langsung mendapatkan. Di sini, transformasi digital akan secara drastis menurunkan biaya operasional.

Merangkul Insurtech Merangkul Insurtech kini menjadi jawaban cepat untuk perusahaan asuransi yang belum mampu untuk melakukan transformasi digital. Di tempat saya bekerja saat ini, sebuah perusahaan asuransi dapat menghasilkan premi kotor sebesar IDR 2 milyar perbulan hanya dari produk asuransi kendaraan bermotor yang ada di aplikasi kami. Juga beberapa asuransi lain yang bekerjasama dengan agregator B2C maupun B2B2C lainnya. (ABP)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s